Hari ini mungkin sama saja dengan hari yang lain, atau mungkin itu hanya bagi ku saja.
Tatanan terlihat sama diantara fajar nanar, terang yang hilang, senja memanja lalu malam hamparan kelam.
Tak terasa sakral walau kumandang takbir bergema setiap detiknya.
Tak ada tetesan air mata dan tak ada juga pelukan penghangat kalbu.
Hanya relung bertahta dalam perenungan hebat.
Maaf itu hanya desir pasir.
Maaf itu hanya debu.
Maaf itu hanya angin.
Dan maaf itu hanya menjadi kata yang tersumbat.
Datangkan hujan bintang atau tenggelamkan aku di Segitiga Bermuda, mungkin itu menjadi lebih baik.
Undang badai meteor atau benamkan aku di gumpalan es Antartika, mungkin itu menjadi lebih baik.
Persilahkan masuk ribuan komet porak porandakan tatanan raga ku atau tanam aku di antara Pyramid Mesir, mungkin itu menjadi lebih baik.
Mungkin saatnya aku menjadi jalang di malam lebaran yang berkata dengan lirih sebuah kata "maaf"
Monday, April 11, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 komentar:
Post a Comment