Friday, November 25, 2011

Pemikiran Pamit Mati

Orang-orang sekarang pada umumnya makin alergi terhadap sesuatu yang dianggap ”serius”. Dalam strategi yang berhubungan dengan pemanfaatan waktu luang—yang sebenarnya bisa produktif—ada keengganan luar biasa terhadap yang serius. Entah mana sebab mana akibat, sebagian besar produk kebudayaan kita kemudian diabdikan untuk melayani keengganan masyarakat terhadap sesuatu yang serius.

Bicaralah pada produser film, tawarkan film yang diandaikan menyimpan gagasan mengenai kekayaan dan pluralitas ke-Indonesia-an. Dijamin, sang produser bakal lebih tertarik kalau Anda menawarkan mistik Cipularang KM 90. Kalau terlalu serius tak ada yang menonton. Yang ngawur saja, dengan judul super ngawur, uang bakal mudah dikeruk.

Ini berlaku di semua bidang. Masih saudaranya film, televisi. Bikin program dengan pemikiran serius—taruhlah Hiburan dengan ’H’ besar bukan ’h’ kecil—maka orang akan menanggapi: serius begini, siapa mau nonton? Apalagi kalau diperjelas, kita membikin sesuatu untuk kepentingan lebih besar daripada sekadar ber-haha-hihi, maka kita akan dianggap gila. Ini zaman Kalatida. Akal sehat dianggap gila.

Seni panggung? Sami mawon. Anak-anak teater yang spartan yang menganggap teater sebagai jalan hidup, karena teater adalah cermin kehidupan, menjadi gelandangan kebudayaan. Seperti gelandangan yang hidup di gorong-gorong budaya, mereka tergusur oleh gebyar panggung pertunjukan yang mengandalkan sensasi visual, fisik, termasuk kemunculan artis-artis kinclong. Kemasan adalah segala-galanya. Di balik itu hampa. Tidak ada roh.

Ya, kita bicara mengenai produk kebudayaan, maka jangan tinggalkan buku. Bagaimana dengan dunia perbukuan? Anda tinggal tengok ke toko-toko buku. Anda belajar sampai ke Harvard dan membikin teoritikasi politik kita, buku Anda akan ditenggelamkan di rak paling pojok, kalah oleh buku berisi gosip-gosip politik. Filsafat bakal tinggal kenangan, diganti peran para motivator (saya menyebut tukang jual jamu), yang menerbitkan buku cara menjadi kaya secara mendadak, resep sukses dengan bermimpi, dan lain-lain. Buku-buku sastra harus mengiri pada karya-karya yang diambil dari celoteh dunia maya, lengkap dengan bahasanya yang amburadul. Kalau kita masih berpikir bahwa kita harus menjaga bahasa Indonesia seperti kita menjaga ibu, maka akan sakit hati dan TBC. Buku-buku yang memporak-porandakan bahasa dan akal sehat laris keras, dirayakan di mana-mana.
Ditonton, bukan menonton
”Opo aku isih iso berkesenian (apa aku masih bisa berkesenian),” desah seorang maestro pertunjukan seni klasik Jawa. Pada zamannya, ia menganggit karya-karya gemilang. Pertunjukannya yang sarat bobot di Taman Ismail Marzuki (TIM) ditunggu-tunggu pencintanya, dan mendapat apresiasi luar biasa di media massa.

Itu dulu. Kini, ia merasa tak mendapat kesempatan berkarya. Sponsor lebih melirik ke karya-karya yang itu tadi: jangan serius. Yang penting menghibur. Yang klasik dikhawatirkan tak ada yang meminati. Sama-sama mengeluarkan uang, daripada untuk kesenian serius, lebih baik untuk olahraga, banyak penontonnya, meskipun olahraganya kalah melulu.

Kalangan dunia klasik pewayangan pernah berprasangka baik, dengan munculnya eksperimen-eksperimen di dunia wayang. Dengan wayang yang dipadatkan, dimasuki dangdut, diguyur lawakan sepanjang pertunjukan, tidak jadi masalah. Yang penting orang nonton wayang dulu. Siapa tahu nanti apresiasi meningkat, sampai ke jati diri wayang: yang mempunyai peran besar dalam pembentukan kebudayaan Indonesia.
Dugaan mereka meleset. Para penonton jenis tontonan tadi tak pernah meningkat menjadi penonton karya-karya klasik. Yang klasik, yang dianggap serius, tetap terpinggir dan makin terpinggir.

Kasus dalam dunia pewayangan ini bisa ditarik sampai ke gejala yang ramai sekarang, yakni pementasan wayang orang para ”ndoro”. Yang saya maksud wayang ndoro adalah wayang yang pemainnya terdiri dari para pemain amatir, para pesohor, sosialita, ibu-ibu kaya, serta pejabat. Mereka manggung bersama para pemain wayang profesional. Dalam proses latihan kadang didampingi seniman panggung yang mumpuni.

Niat di balik pementasan para ndoro itu terdengar mulia. Untuk membantu melestarikan kesenian tradisional. Dengan kemunculan mereka di panggung, penonton ramai. Harga tiket berkali- kali lipat harga tontonan kesenian tradisional sehari-hari.
Dengan terobosan itu, apakah kesenian tradisional kita menjadi makin luas khalayaknya? Tidak. Tanpa kehadiran para ndoro di panggung, kesenian tradisional kembali kepada kehidupan gembel sehari-hari.

Artinya apa? Dengan modal atau kapital mereka memobilisasi penonton untuk menonton mereka sendiri. Ketika mereka tidak di panggung, masih adakah mobilisasi penonton itu? Seniman yang pernah melatih me- reka, ketika membikin karya sendiri untuk produk yang lebih ”serius”, mengaku bahkan para ndoro yang dilatihnya dulu tidak menonton. Mereka juga tak akan memberikan dukungan keuangan kalau mereka sendiri tidak tampil di panggung. Diminta memberi makanan saja susah, kata seniman tadi tertawa.

Di sini, kapital rupanya berdampingan dengan narsisme. Istilahnya, kapitalisme dan narsisme jadi satu. Kalau aku tidak di panggung, tak ada kapital kusediakan. Kebutuhanku ditonton, bukan menonton.

Pamit mati
Jika di tingkat atas yang menggembosi produk kebudayaan dari keseriusan dan pemikiran adalah kapital (dan narsisme), di tingkat bawah ada persoalan lagi yang tak kalah serius. Khusus untuk wayang, adalah tekanan kelompok radikal terhadap produk kebudayaan bernama wayang. Mungkin Anda jarang membaca beritanya, tetapi di beberapa tempat di Jawa Tengah sangat sering terjadi penggerebekan terhadap pertunjukan wayang. Pertunjukan wayang kulit yang tengah berlangsung bisa didatangi sekelompok orang, yang dengan sangar menyuruh semuanya bubar. Para seniman wayang hanya bisa berkemas-kemas, menutup peti, terusir sebagai kelompok sudra tanpa perlindungan negara.

Sesekali saja kasus seperti itu terangkat ke permukaan. Misalnya, seperti ketika televisi memberitakan bagaimana di Purwakarta, Jawa Barat, sekelompok orang merobohkan patung-patung wayang di sudut-sudut kota. Terlihat dalam tayangan televisi, setelah patung dirobohkan, diinjak-injak. Dilihat dari lapis permukaan itu menggelikan. Dari lapis lebih dalam, menyedihkan.

Beberapa waktu lalu, sebuah rombongan kesenian tradisional ketoprak melakukan pentas terakhir di Alun- alun Selatan Yogyakarta. Pentas itu mereka sebut pentas pamit mati. Mereka tak bisa lagi bertahan karena tak ada lagi yang peduli. Tak ada lagi yang menghargai apa pun yang tidak bernilai uang. Koruptor sekali pun, karena bergelimang uang, bisa seketika menjadi pahlawan setelah persoalannya diolah dan dibolak-balik seperti martabak oleh para pengacara. Sementara kesenian tak punya pembela.

Produk-produk kebudayaan yang ”serius”, pada tingkat atas digusur oleh kapitalisme dan narsisme. Pada tingkat bawah, oleh radikalisme. Kalau semua kita dan terutama negara tak turun tangan menyikapi gejala ini, maka sesuatu yang serius, termasuk pemikiran, akan sampai pada titik seperti dilakukan rombongan kesenian tradisional tadi: pamit mati.

Wednesday, November 9, 2011

Tanpa Judul

Yang sedikit membuat saya takut adalah kisah ini hanya akan menjadi sebuah persinggahan sementara.
Diantara banyak waktu saya coba lupakan kegelisahan, namun hal tentang kamu telah  menjadi peran utama.
Tidak ada lagi yang harus di pertanyakan, sebab saya sudah mengetahui segalanya melalui bahasa mu.
Biarkan saya untuk selalu menghirup udara dari pesona mu.
Atau biarkan saya tetap menjadi tempat dimana kamu merasa nyaman.

Friday, November 4, 2011

Kamu adalah candu

Yang saya tahu nama depan-nya menggunakan abjad pertama, itu berarti "A". Dan "A" tersebut sudah membuat malam-malam saya menjadi cepat berlalu, membuat saya melihat matahari datang tanpa mengetuk malam, membuat  hidup saya semakin bertabur doa, dan membuat saya semakin merasakan apa yang selama ini tenggelam bersama kumpulan asap.
Saya pun lupa, sejak kapan "A" tersebut membuat lobang pada rongga di tiap untaian tali nadi. Namun yang saya tahu dengan pasti, saya menikmati setiap detik saya diserang oleh tutur manis-nya. Saya pikir ini melewati batas yang banyak di sebut orang dengan kata "kecanduan". Saya berpikir "A" adalah sebuah candu dengan wujud yang baru, di ciptakan Sang Pencipta hanya semata wayang, dan itu ada di setiap nafas saya.

Buto Wakil

Pada era ini, dimana semua bidang ditambah kata "tainment" di belakangnya, menjadi infotainment, edutainment, politicotainment, dan seterusnya. Segala hal menjadi hiburan semata, hiburan dengan "h" kecil, bukan dengan "H" besar. Dalam celoteh Twitter-nya yang dibukukan, Goenawan Mohamad anatara lain mengatakan dengan mengutip Truman Capote: "I talk to tv things i think not worth writing about".
Aku bicara di TV sesuatu yang ku pikir tak penting untuk di tulis. Ia mengatakan, "Saya selalu menolak diundang 'debat' di TV. Saya bukan pegulat dan tak tertarik untuk menjadi pemain sirkus."
Itulah situasi sosial-politik mutakhir kita. Sebuah tontonan, kita melihat sedan-sedan mewah dengan kawalan mobil serta sepeda motor besar polisi yang bisa berjalan meliuk-liuk seperti akrobat diantara kepadatan lalu lintas Ibu Kota. Mereka keluar masuk gerbang besar, bertulis Puri Cikeas. Itu bagian dari tontonan menarik politik kita.
Dalam pertunjukan Wayang ada adegan yang menghibur, yakni perang kembang. Ini bukan perang sungguh-sungguh, melainkanb sekedar penanda akan datangnya kekisruhan yang lebih besar. Di situ muncul Buto atau Raksasa, mengganggu perjalanan ksatria Pandawa bernama Arjuna di tengah hutan. Sekali kena tendang, buto tadi masuk kotak.
Buto yang tak canggih-canggih amat di episode yang tak penting-penting amat itu oleh teman dari Yogyakarta dipelesetkan namanya menjadi Buto Wakil. 

Tuesday, October 25, 2011

Ketika hidup adalah pilhan !!!

Jerry adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia selalu dalam
semangat yang baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan.
Jika seseorang bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan,
dia akan selalu menjawab, " Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih
suka menjadi orang kembar!"

Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja,
sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran
yang lain.
Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry
adalah karena sikapnya.

Jerry adalah seorang motivator alami. jika karyawannya sedang
mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana , memberitahu karyawan
tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialamai.

Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu
hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, "Aku tidak mengerti! Tidak
mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu.

Bagaimana kamu dapat melakukannya? " Jerry menjawab, "Tiap pagi aku bangun
dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih
untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang
jelek. Aku selalu memilih dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu
terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari
kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu. Setiap ada sesorang
menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau
aku dapat mengambil sisi positifnya.. Aku selalu memilih sisi positifnya."

"Tetapi tidak selalu semudah itu," protesku. "Ya, memang begitu,"
kata Jerry, "Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh
masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana
bereaksi terhadap semua keadaan.
Kamu memilih bagaimana orang-orang disekelilingmu terpengaruh oleh
keadaanmu.
Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu
adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup."

Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak
pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran: membiarkan pintu
belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang
bersenjata.
Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah
memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya,
Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit.

Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan
intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian
peluru masih berada di dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan
setelah musibah tersebut.

Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab, "Jika aku
dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar. Mau melihat
bekas luka-lukaku? " Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya, tetapi aku
masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan.

"Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus
mengunci pintu belakang," jawab Jerry. "Kemudian setelah mereka
menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua
pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk
hidup."

"Apakah kamu tidak takut?" tanyaku. Jerry melanjutkan, " Para ahli
medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi
saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah
para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata 'Orang ini akan
mati'. Aku tahu aku harus mengambil tindakan."

"Apa yang kamu lakukan?" tanya saya. "Disana ada suster gemuk yang
bertanya padaku," kata Jerry. "Dia bertanya apakah aku punya alergi.
'Ya' jawabku..

Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, 'Peluru!' Ditengah tertawa
mereka aku katakan, ' Aku memilih untuk hidup. Tolong aku dioperasi
sebagai orang hidup, bukan orang mati'."

Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena
sikapnya hidupnya yang mengagumkan. Aku belajar dari dia bahwa tiap
hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau
membencinya.

Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang
lain adalah sikap hidupmu, sehingga jika kamu bisa mengendalikannya dan
segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah.

Monday, August 1, 2011

Tanpa Judul

Aku tak pernah menyangkal, dunia ini dipenuhi dengan aneka warna. Warna cintalah yang paling mendominasi. Mereka yang tidak mengakui kedaulatan cinta dalam kehidupan pada sisinya yang positif dan negatif adalah orang yang mengobati dahaganya dengan begelas-gelas air samudera. Saat paling dahaga baginya adalah sesaat setelah mereguk gelasnya. Hingga habis air samudera. Dahaga kian mendera.
Cintalah yang mengilhami seorang renta untuk tetap berjalan demi anaknya, walau tapak kaki penuh darah dan nanah. Cintalah yang mendorong untuk bertahan diatas kegetiran. Cintalah yang memberi kekuatan untuk memaafkan, marah, dendam, benci, sayang, berkorban, dan memberi. Cintalah yang mendorong orang melakukan segalanya. Termasuk bunuh diri !!!.
Demi cinta, alam memberikan kepada kita fenomena tersarat makna. Kita harus belajar menampungnya demi menjadi aura yang menjiwai kehidupan ini. Kita seharusnya mewujudkan butiran cinta dalam film dan fiksi, menjadi suatu yang hidup bersama, dan terus berada dalam diri kita.

Thursday, April 21, 2011

Di Batas Kerinduan Energi Digital.

Malam-malam ini kembali memberikan sebuah kabut tipis diantara kerinduan ku atas diri mu. Kembalikan nama mu muncul di perangkat digital ku atau pulangkan ruh mu di sela pelukan tidur ku, itu yang aku mau !!!
Kata demi kata terlihat hampa, membungkam elegi kata demi kata para pecinta.
Pukul aku dengan tangan mu atau mungkin dengan kata-kata mu, tapi tolong, jangan dengan ketiadaan diri mu, karena itu menjadi ketakutan yang paling abadi.
Pikiran ku berputar untuk menanyakan "sedang apa diri mu wahai gadis ku ?, lalai kah kau akan Tuhan mu ?, terlilitkah perut mu saat ini ?, atau tertidur dengan pulas-kah kau malam ini ?."
Jawab ketiadaan ku walau hanya dengan desir nafas mu.
Cepat kembali dan jangan pernah sekali pun pergi datang mengahampiri akal mu, baik itu saat terang atau saat malam menjadi raja para bintang.
Karena hanya dengan suara mu atau mungkin hadir mu mampu membuat ku lupa akan wacana derita.

Sentimentil Menyamar

Ada persoalan yang belum tuntas diantara kita. Bukan, bukan dendam. Hanya satu tanda tanya besar, mengapa kau meninggalkan ku di saat aku paling membutuhkan mu. Aku marah, kesal, dan kecewa. Namun, semua itu tertutupi hangat cinta yang masih menyala di di dalam hati ku. Setiap malam aku selalu berdoa, suatu saat bisa mendengarkan suara mu lagi. Aku mendongak-kan kepala ke langit. Berharap kau melihat rembulan yang sama dengan ku, kemudian aku menutup mata takut waktu secara kejam membuat ku melupakan wajah mu.
Sebut aku sentimentil. Tapi aku sungguh merindukan mu. apakah kau juga begitu?

Bla Bla Bla......

Ada mimpi yang tetap indah jika tetap menjadi mimpi, itu adalah hal yang membuat kita tetap berharap dan berdoa. Namun ada pula kenyataan yang memang indah jika kita menerimanya dengan ikhlas meski tidak pernah sedetik-pun kita memimpikan-nya.

Hidup adalah anugerah !!!

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, “Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?”. Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.

Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, “Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya.”


***

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hidup adalah anugerah !!!